Sekitar jam 9 pagi aku sudah sampai di Pasar Kaget Piladang,
pasar tradisional kagetan di sekitar Payakumbuh. Kalau kita dari arah
Bukittinggi, pasar ini ada disebuah lapangan sebelah kiri jalan, sebelum kita
masuk ke kota Payakumbuh. Pasar ini hanya buka pada hari Jum’at saja.
Belum sempat sarapan. Celingak celinguk mencari warung nasi
yang bisa disinggahi. Rasa lapar membuatku menyerah dan memutuskan untuk
bertanya kepada seorang uni. Ia kemudian menunjuk ke arah salah satu warung
nasi kapau di ujung lapangan. Namanya nasi kapau Uni Des. Dari luar, rumah
makan itu tampak cukup ramai pengunjung. Berbagai hidangan tampak terjejer rapih.
Dendeng balado dengan potongan daging yang lebar hampir menutupi piring,
tambusu atau usus sapi yang sudah diisi dengan telur kocok berbumbu begitu
menggoda mata.
Semua hidangan yang tertata di depanku benar-benar membuat
air liurku menetes. Di balik makanan-makanan itu Uni Des menuangkan nasi di
atas daun pisang dengan porsi yang menggunung. nasi yang mengepul itu siap
disiram kuah dan lauk yang menggiurkan. Betul-betul super ekstra large porsi nasi kapau ini. Dibantu
oleh satu orang uni lain aku mulai memperhatikan bagaimana sigapnya mereka
mereka. Dimulai dari mengambil daun, menyendok nasi dan menuangkan lauk di
atasnya.
Uni Des mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi
putih untukku. Sementara aku masih memilih, ia sudah menambahkan lauk wajib
dari sebuah nasi kapau. Sedikit potongan tambusu, gulai kapau yaitu gulai dengan
sayur kol, cubadak, dan rebung. Tidak ada rendang daging disini. Yang ada hanya
rendang ayam. Dari beberapa rumah makan nasi kapau memang jarang terlihat
rendang daging. Mereka menghidangkan rendang ayam sebagai pilihan.
Potongan daging ayam yang tidak terlalu besar, tidak
tertutup kulit seperti potongan ayam goreng di warteg-warteg. Ayam potong
disini memang langsung dikupas kulitnya oleh para penjual ayam. Jadi bersih.
Balutan bumbu rendangnya cukup banyak membalut dan meresap kedalam ayam.
Diletakkan dalam piring kaleng besar. Sungguh surprised bahwa rendang ayam ini
kering tidak basah oleh minyak. Mungkin karena akan dipadukan dengan lauk lain
yang cukup banyak kuah dan minyak, maka rendang ayam ini bisa dibilang kering.
Ada potongan singkong yang dipotong kecil berukuran dadu
sebagai penambah kenikmatan. Dari Uni
Des aku tahu kalau memang rendang ayam ini ditiriskan dulu sebelum dihidangkan.
Proses pemasakan yang tidak mudah kadang memang membuat rendang ayam ini bisa
hancur saat diaduk. Bisa-bisa dibilang mutilasi tuh, soalnya saat matang bisa
saja ketemu tulang yang dagingnya ada entah dimana….
Tapi secara keseluruhan rendang ayam di Nasi Kapau uni Des
ini memang dibuat dengan rasa cinta, seperti kecintaannya menyajikan makanan di
lapaunya dengan porsi yang berlimpah..
Kenyang?
Belum tentu, karena ibu tua yang duduk disebelahku, dengan yakin berkata
“tambuah ciek”Sumber






















